Sumbang Duo Baleh, Warisan Budaya, Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Anak Usia Dini

PARIAMAN, SABTU (12/9) – Menyusul kesuksesan kegiatan Webinar Nasional Perdanya nya pada 29 Agustus 2020 yang lalu, BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat kembali menggelar kegiatan serupa bertajuk “Sumbang Duo Baleh, Warisan Budaya, Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Anak Usia Dini” pada tanggal 12 September 2020. Kegiatan ini merupakan webinar seri ke-2 dari sembilan seri program Webinar Kemitraan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat yang akan diselenggarakan selama tahun 2020. Webinar ini dibuka secara resmi oleh Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, dan mengundang tiga pembicara lainnya, yang merupakan praktisi, akademisi serta tokoh yang berkecimpung di bidang pendidikan, yaitu Dra. Elmizar, M.Pd - Pamong Belajar Madya BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Gusdi Sastra, M.Hum.,Ph.D.,- Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Padang, dan Musra Dahrizal Rajo Mangkuto atau yang dikenal dengan sapaan Mak Katik, - Budayawan, Seniman sekaligus Pengajar Budaya Adat Minangkabau.
Tema sumbang duo baleh sendiri merupakan salah satu model yang pernah dikembangkan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat di Tahun 2017, yang diketuai oleh Dr. Elmizar, M.Pd sebagai pengembang. Dengan mengusung judul “Penerapan Perilaku Positif Nilai Sumbang Duo Baleh bagi Pendidikan Anak Usia Dini”, model ini telah dipublikasikan dan diterapkan oleh beberapa sekolah/PAUD yang ada di Sumatera Barat, yaitu di Kabupaten Pasaman Barat, Kota Bukittinggi dan Kabupaten Solok. Pada tahun 2018, model ini juga telah diseminarkan secara nasional dan internasional serta direkomendasikan kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kabupaten/kota untuk dapat diterapkan bagi satuan-satuan PAUD di wilayah Provinsi Sumatera Barat. 
Di zaman modern ini, nilai – nilai luhur negeri di negara Indonesia sudah mulai memudar dan terkikis oleh derasnya pengaruh globalisasi. Generasi muda sudah mulai asing dengan nilai-nilai yang dianut dalam budayanya sendiri. Padahal anak Indonesia saat ini merupakan harapan besar menjadi penerus dan penentu kemajuan bangsa, yaitu generasi penerus yang kuat, cerdas, berkarakter, serta menjunjung nilai-nilai sopan santun.
“Tergerusnya pemahaman anak-anak terhadap nilai budaya di Masyarakat Minangkabau pantas kita cemaskan. Kuatnya arus informasi yang masuk, sangat mempengaruhi anak-anak, dan kita harus cukup siap menghadapi tantangan ini. Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah mungkin nanti hanya tinggal mimpi saja di masa depan, hanya menjadi falsafah yang sering disebut, tetapi tidak pernah muncul dalam berperilaku di keseharian” Dr. Wisma Endrimon dalam pembukaannya menjelaskan.
Sumbang Duo Baleh merupakan salah satu warisan Budaya Adat Minangkabau berupa peraturan tidak tertulis  yang berisikan 12 nilai sopan santun dan nilai  tata krama. Dua belas nilai tersebut adalah : Sumbang duduak, Sumbang tagak, Sumbang diam, Sumbang bajalan, Sumbang kato, Sumbang caliak, Sumbang bapakaian, Sumbang bagaua, Sumbang karajo, Sumbang tanyo, Sumbang jawab, Sumbang kurenah. 

Webinar yang mengangkat tema “Sumbang Duo Baleh Warisan Budaya, Pendidikan Karakter Dan Pembelajaran Anak Usia Dini” ini bertujuan untuk meningkatkan kembali kesadaran dan pemahaman, terutama bagi orang tua/pendidik anak usia dini tentang pentingnya peran nilai budaya dan kearifan lokal dalam filosofi Sumbang Duo Baleh sebagai acuan pembelajaran dan pendidikan anak di usia dini. Hal ini penting karena filosofi sumbang duo baleh juga berisikan pembelajaran tentang aspek moral, spiritual, intelektual, emosional dan sosial yang penting untuk diterapkan sebagai upaya penanaman nilai karakter bagi anak dalam kehidupan sehari-hari sejak usia dini. Diharapkan filosofi nilai-nilai budaya di negeri ini dapat dihidupkan dan dipopulerkan kembali, sehingga mempersiapkan karakter anak dalam menyikapi dan menghadapi tantangan dan pengaruh dari budaya luar yang jauh dari nilai-nilai sopan santun budaya di Indonesia.
Setelah sebelumnya pada webinar pertama  yang mengusung tema “Mempersiapkan Generasi Emas Membangun Negeri Melalui Pendidikan Anak Usia Dini”, salah satu narasumber, Ibu Hj. Nevi Zuraini selaku Bunda PAUD Provinsi Sumatera Barat, sempat membahas mengenai filosofi sumbang duo baleh. BP PAUD dan Dikmas Sumbar tertarik untuk kembali untuk mengadakan diskusi lebih jauh mengenai implementasi sumbang duo baleh dan memperkenalkannya pada proses pembelajaran pendidikan bagi anak usia dini. Tanggung jawab mempersiapkan generasi penerus yang cerdas dan berkarakter di masa yang akan datang merupakan tantangan bagi kita semua, sehingga menjadi penting untuk mengangkat tema untuk didiskusikan, serta mengajak para orang tua, pendidik anak, guru dan masyarakat memperkenalkan nilai-nilai sumbang duo baleh ini kepada anak-anak sejak usia dini.

“Tidak mudah, tentu. Bagi kita saja yang sudah dewasa, tidaklah sederhana, apalagi bagi anak-anak. Tetapi kita perlu yakin, bahwa mengajar anak-anak jauh lebih mudah. Memperkenalkannya (nilai-nilai sumbang duo baleh) dari awal pasti akan lebih cepat diterima. Mengajarkan pada anak ibarat mengukir di atas batu, sementara kalau sudah dewasa ibarat mengukir di atas air” ujar Dr. Wisma Endrimon menambahkan.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Budaya dan kearifan lokal suatu daerah merupakan konteks lokal yang penting dipertimbangkan dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk dalam pengelolaan dan pembelajaran di PAUD. Dalam budaya masing-masing daerah di Indonesia terdapat unsur-unsur budaya yang sangat baik untuk disosialisasikan dan diwariskan pada generasi penerusnya, salah satunya adalah nilai dan filosofi sumbang duo baleh yang berasal dari Budaya Minangkabau. Kata sumbang berarti  aturan yang tergambar dari sikap dan perilaku yang mendekati kepada kesalahan yang tidak enak di dengar dan tidak indah dilihat, atau disebut pantangan atau larangan. Nilai-nilai yang terdapat dalam konsep sumbang duo baleh adalah sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang makan, sumbang bajalan, sumbang bakato, sumbang mancaliak, sumbang bapakaian, sumbang bagaua, sumbang karajo, sumbang batanyo, sumbang manjawab, dan sumbang kurenah.

“Tim model BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat pada tahun 2017, mengembangkan suatu konsep, sumbang duo baleh sebagai acuan bagi pendidik PAUD dalam memberikan contoh dan penguatan perilaku yang benar kepada peserta didik.” Ujar Dra. Elmizar, M.Pd. dalam penyampaian materinya.

Tujuan dikembangkannya model ini adalah sebagai acuan bagi pendidik PAUD dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan penerapan nilai sumbang duo baleh bagi anak usia dini; sebagai inspirasi dalam menerapkan nilai moral, etika, dan sikap prilaku berfilosofi budaya Minangkabau.
Pendidikan berbasiskan budaya lokal yang mengadaptasi nilai positif sumbang duo baleh berfungsi membentuk karakter budaya peserta didik melalui metode bermain sambil belajar dan pembiasaan. Hal ini mendukung terwujudnya fungsi PAUD dalam pengembangan potensi anak, penanaman nilai-nilai dan norma-norma kehidupan, pembentukan dan pembiasaan perilaku-perilaku yang diharapkan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar, serta pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif bagi anak. 

“Budi baiak baso katuju, muluik manih kucindan murah, dibagak urang ndak takuik, di kayo urang ndak arok, dicadiak urang ndak ajan, dirancak urang ndak ingin, dibudi urang takanai. Sasuai bak bunyi pantun, babelok babilin-bilin, dicapo tumbuahlah padi, dek elok urang tak ingin, dek baso luluahlah hati. Nan kuriak Lundi, nan merah sago, nan baiak budi, nan indah baso.”