BP Paud Dikmas Sumatera Barat Kembangkan Lima Model

Tahun 2020 ada lima model yang dikembangkan oleh tim pokja pamong belajar BP PAUD Dikmas Sumatera Barat. Masing masingnya tiga model Paud dan dua model kesetaraan.
Menurut Kepala BP PAUD Dikmas Sumatera Barat Dr.Wisma Endrimon,M.Pd masing masingnya sudah melakukan langkah langkah dalam pengembangan model ke setiap daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, kendati saat ini seluruh Indonesia tidak kecuali Sumatera Barat masing mengalami pandemi Covid 19, namun terus memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan.
Berikut Model model yang dikembangkan oleh tim pengembang BP PAUD Dikmas Sumbar.
MODEL KESETARAAN I
Pencapaian kompetensi tersebut dapat dicapai dengan sistim pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta didik untuk belajar. Pelaksanaan pembelajaran pada Paket B dilaksanakan dengan tiga pola pembelajaran yaitu pola pembelajaran tatap muka, tutorial dan mandiri. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan tutorial berdasarkan alokasi waktu sesuai bobot Satuan Kridit Kompetensi (SKK). Pemetaan SKK setiap mata pelajaran menetukan alokasi waktu setiap mata pelajaran pada kelompok umum dan kelompok khusus. Berdasarkan bobot SKK dapat ditentukan alokasi waktu pembelajaran tatap muka dan mandiri.
 Pelaksanaan pembelajaran tatap muka, tutorial dan mandiri yang dilaksanakan pada Paket B belum semua terlaksana dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan selama ini  pada Paket B lebih mengutamakan kegiatan pembelajaran tatap muka. Sehingga pelaksanaan pembelajaran mandiri belum terlaksana dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran lebih terfokus pada pada pola pembelajaran tatap muka dengan metode ceramah. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih bersifat kovensional dimana pendidik mentransfer pengetahuan dengan metode ceramah pada kegiatan tatap muka.  
Berdasarkan hal tersebut diatas Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Sumatera Barat tahun 2020 melaksanakan kegiatan pengembangan model. Langkah awal pengembangan model adalah kegiatan studi pendahuluan atau studi eksplorasi yang merupakan kegiatan untuk mencari permasalahan dilapangan. Permasalah tersebut dapat dilihat berdasarkan empat indicator (Polya) sebagai berikut memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan menafsirkan jawaban.
Studi eksplorasi dilaksanakan pada enam kabupaten/kota se Sumatera Barat yang terdiri dari Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupeten Pasaman Barat, dan Kabupaten Tanah Datar. Jumlah sasaran studi eksplorasi adalah 50 orang peserta didik dan 20 orang pendidik mata pelajaran matematika. 
Dapat disimpulkan bahwa memahami masalah 50% peserta didik tidak ada jawaban. Merencanakan penyelesaian masalah 46% peserta didik tidak mengemukakan rencana penyelesaian sama sekali/keseluruhan rencana tidak ada yang benar. Melaksanakan penyelesaian 40% peserta didik tidak ada jawaban yang diberikan. Menafsirkan jawaban 48% peserta didik     tidak memberikan kesimpulan jawaban. 
Ketua Pokja Kesetaraan I Alfitriati mengungkapkan  hasil wawancara yang dilakukan dengan pendidik dapat disimpulkan bahwa Pendidik jarang memberikan soal cerita, sehingga peserta didik tidak terbiasa memecahkan masalah yang terdapat pada soal cerita, jika ada pada modul atau buku  paket paserta didik kesulitan dalam menjawab. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih bersifat kovensional dimana guru mentransfer pengetahuan dengan metode ceramah pada kegiatan tatap muka. Kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah sangat rendah     karena selama ini pendidik memberikan soal lebih dominan bersifat soal rutin.   Peserta didik hanya mampu menyelesaikan soal yang dicontohkan, apabila diberikan soal yang berbeda mereka akan kesulitan menyelesaikannya. Soal yang diberikan tidak mengaitkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut diatas perlu peningkatan pemahaman peserta didik dalam memmecahkan masalah. Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dalam memahami dan menyelesaikan masalah tersebut BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat tahun 2020 mengembangkan model yang berjudul “Pengembangan Literasi Berbasis Pendekatan Realistik Mata Palajaran Matematika Pada Paket B Kelas VIII “. Tim pengembang ini terdiri dari Ketua Alfitriati,S.Pd dengan anggota Drs. Safli, Atos Indria,S.Pd dan Rosa Ayu Putri,S.Pd
MODEL  KESETARAAN II
Judul Model ini  Pembelajaran dengan saintifik Pendekatan dengan mata pelajaran PPKn Paket B kelas VIII.
Pendekatan saintifik dalam pembelajaran mendorong peserta didik untuk menjadi “peneliti”, berpikir ilmiah, kritis dan analitis, karena pembelajaran dilakukan mulai dari tahapan mengidentifikasi permasalahan, menyusun rumusan masalah, menyusun dan menguji hipotesis, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, menyusun laporan, hingga mempersentasikannya.
Berdasarkan temuan permasalahan tersebut di atas, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengembangan model maka tahun 2020 ini Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) Sumatera Barat  mengembangkan dan mengujicobakan Model Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik pada Mata Pelajaran PPKN Paket B Kelas VIII. 
Tim yang terdiri dari Ketua Drs. Masendri,.M.Pd dengan anggota Guslinda, S.Pd, Elmiza,S.Pd dan Firmansyah,S.Pd
MODEL PAUD 1. 
Model PAUD 1 mengambil judul Pembelajaran kecakapan hidup bagi Pendidikan anak usia dini 5-6 tahun Sebagai upaya kesiapan masuk SD kelas awal.  
Kesiapan memasuki pendidikan selanjutnya (Sekolah Dasar) merupakan sesuatu yang sangat penting sekali yang harus dimiliki oleh setiap anak karena kesiapan belajar masuk sekolah merupakan modal pertama untuk mengikuti proses kegiatan belajar di sekolah. Semakin besar kesiapan belajar yang dimiliki anak maka semakin besar anak memiliki kemampuan mengikuti poses kegiatan belajar di SD. Sebaliknya semakin kecil kesiapan belajar yang dimiliki anak maka semakin kecil anak memiliki kemampuan mengikuti proses kegiatan belajar di SD. 
Sebagai Upaya dalam mengakomodasi kesiapan bagi anak PAUD/TK untuk masuk SD, bentuk pendidikan keterampilan yang memandirikan anak atau kecakapan hidup (life skills) merupakan kebutuhan agar anak memiliki kecakapan yang relevan dengan perkembangan dan kematangan anak. Pendidikan kecakapan hidup (life skill education) merupakan salah satu formula yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi dan mengembangkan  segala bentuk potensi peserta didik. Pendidikan kecakapan hidup dalam model ini merupakan bentuk pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan/kompetensi anak usia dini untuk mengatasi berbagai tuntutan dan tantangan hidup sehari-hari sebagai upaya kesiapan pendidikan lebih lanjut
Melalui pembelajaran kecakapan hidup, diharapkan peserta didik mampu mempraktekkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-harinya, seperti sudah dapat memakai baju sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, dan mengelola keperluan sendiri di rumah dan di sekolah. Pembelajaran kecakapan hidup ini dapat memberikan solusi pada tantangan di dunia nyata. Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak peserta didik melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap tema dan sub tema terhadap penerapan dalam kehidupan sehari hari anak sehingga  mendorong motivasi belajar. 
Tim Pengembangan Model BP- PAUD dan Dikmas Sumatera Barat perlu mengembangkan dan mengujicobakan Model Pengembangan Pembelajaran Kecakapan Hidup Sebagai Upaya Kesiapan Masuk SD Kelas awal. Yang bertujuan untuk dapat mempersiapkan anak tidak hanya secara kognitif namun juga mengembangkan kemampuan serta keterampilan yang diperlukan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan, mempersiapkan dan membantu mematangkan anak secara mental/psikologis agar anak benar-benar siap untuk melanjutkan kelingkungan yang lebih luas dan formal.
Penerapan pembelajaran melalui kontekstual learning dapat dilakukan di sekolah dan di rumah oleh orang tua yaitu melalui kegiatan belajar melalui bermain yang bermakna dan menyenangkan. mengingat anak usia dini akan lebih mudah menyerap informasi dan pengalaman barunya melalui bermain yang melibatkan mereka secara langsung dan konkrit dan terlibat praktek langsung dan aman, nyaman bagi anak usia dini. Tim ini terdiri dari Ketua Dra. Elmizar,M.Pd, Drs. Elwin, Dra. Rosnida.
MODEL PAUD  II
Mengusung judul Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara  Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak  Usia  5-6 Tahun
Dengan Ketua Ir. Gusfry Nelly,M.Pd dan anggota Makmur, S.Pd,M.Pd, Hidayati, S.Pd dan Afridewita,S.Pd Pengembangan ini adalah untuk memformulasikan Model Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak Usia 5-6 Tahun, yaitu : Sebagai acuan bagi sekolah atau pendidik dalam membangun kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam bentuk meningkatkan kesiapan bersekolah anak usia dini, Sebagai Acuan bagi pendidik untuk mengembangkan permainan kreatif sesuai dengan potensi anak yang sinergis dengan orang tua dan Sebagai acuan bagi orang tua dalam mendampingi anaknya dalam meningkatkan kesiapan bersekolah anak melalui Permainan Kreatif. 
Model adalah representasi  yang akurat dari proses actual yang memungkinkan seseorang atau kelompok orang untuk bertindak berdasarkan pijakan yang representative oleh model itu, sebagaimana yang didefenisikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Masyarakat Nomor 2 Tahun 2016. 
Konsep Model Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak  Usia  5-6 Tahun yang akan dikembangkan oleh BP PAUD dan Dikmas Sumatera dapat dilihat dalam deskripsi di bawah.
MODEL PAUD 3
Tujuan  utama pengembangan model ini adalah mendisiplinkan sikap dan perilaku anak usia 5-6 tahun untuk selalu mejaga kesehatan, kebersihan dan menjaga jarak dengan orang lain sebagai perlindungan dalam menjaga kesehatan anak usia dini yang terintegrasi dengan Satuan Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini. Tujuan ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
Mengembangkan Pendidikan moral dan agama dalam mensyukuri situasi dan kondisi yang sedang terjadi, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan kemampuan Bahasa anak dengan menceritakan kembali apa yang diketahuinya kepada keluarga dan teman sebaya, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan motorik kasar dan motorik halus anak melalui  pemakaian masker yang benar, mencuci tangan dan jaga jarak dengan orang lain atau teman sebaya, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan social dan emosial anak dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan protocol kesehatan covid 19, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan kognitif anak dalam menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan seni anak dengan membuat karya seperti bentuk sesungguhnya dengan berbagai bahan seperti kerta, plastisin, balok dan lain-lain, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Model yang diberi judul Model pembelajaran mitigasi bencana covid-19 dengan tim pengembang Ketua Drs. Rusdi anggota Dra. Netty B Stepu, Drs. Ruswan dan  Febriza Syofiati Nur, M Si