Mempersiapkan Generasi Emas Membangun Negeri Melalui Pendidikan Anak Usia Dini

BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat menggelar kegiatan Webinar Nasional bertema “Mempersiapkan Generasi Emas Membangun Negeri Melalui Pendidikan Anak Usia Dini”. Kegiatan ini merupakan pengembangan dari program kemitraan lembaga BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat Tahun 2020 dengan Bunda PAUD Provinsi Sumatera Barat. Dibuka secara resmi oleh Dr. Wisma Endrimon selaku Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat dan dihadiri oleh tiga pembicara lainnya, yaitu Dr. Muhammad Hasbi - Direktur PAUD, Ditjen PAUD, Dikdas dan Dikmen, Kemendikbud RI, Hj. Nevi Zuairina –Anggota DPR-RI, Bunda PAUD, Ketua PW HIMPAUDI Provinsi Sumatera Barat sekaligus Ketua P2TP2A, dan Dr. Seto Mulyadi, M.Si. atau yang dikenal dengan sapaan Kak Seto - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, sekaligus psikolog anak dan salah satu toko pemerhati anak nasional.
“Kegiatan ini merupakan Webinar pertama secara nasional yang diselenggarakan oleh BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, yang selanjutkan kita akan melakukan kerjasama yang lebih luas dengan lembaga-lembaga mitra lainnya”  ucap Dr. Wisma Endrimon dalam sambutannya. Kegiatan webinar ini disiarkan langsung melalui aplikasi zoom dan Kanal Youtube BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat. Disambut antusias dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah dengan beragam latar belakang profesi; orang tua, penggerak/pendidik/lembaga PAUD/TK, pelajar/mahasiswa dan umum. Dr. Wisma Endrimon, M.Pd., sebagai penanggungjawab kegiatan ini dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa selain memberikan informasi terkait kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai program – program pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini, tema webinar ini diangkat agar meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat di Indonesia, khususnya bagi penggerak PAUD, tenaga pendidik serta orang tua tentang pentingnya PAUD saat ini dalam mempersiapkan generasi emas Bangsa Indonesia di masa yang akan datang. “Kita paham betul, tahun 2045 digadang-gadang sebagai generasi emas. Diperkirakan Indonesia akan mencapai puncak kejayaan, dengan bonus demografinya, kalau seandainya mulai hari ini kita mempersiapkan generasi dengan baik.” Dr. Wisma Endrimon menambahkan. Dengan mendatangkan tiga tokoh masyarakat yang berpengaruh, khususnya di bidang pemerhati isu-isu seputar pendidikan, kelembagaan dan anak sebagai narasumber dan pembicaranya, kegiatan webinar yang  diketuai oleh Ir. Gusfry Nelly, M.Pd.  ini diharapkan juga menjadi media pemersatu yang merangkul semua lapisan stakeholder di masyarakat dalam memantapkan peranan Bunda PAUD, dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengambil peran aktif dan mendukung kemajuan bagi PAUD sehingga terwujudnya sinergitas pendidikan pada semua lapisan masyarakat dalam mempersiapkan generasi emas yang tangguh di masa mendatang. Kemitraan Satuan PAUD dan orangtua dan keluarga di Era Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Rangka Pelaksanaan Kegiatan Belajar dari Rumah (BDR).


Dalam pemaparan materinya, Dr. Muhammad Hasbi menjelaskan bahwa peran orang tua tidaklah cukup dalam mewujudnya PAUD yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu ada keterlibatan/kemitraan yang sinergis antara satuan pendidikan dengan keluarga. Adapun pentingnya Kemitraan Satuan PAUD dan Keluarga diantara lain adalah meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab bersama antara Satuan Pendidikan, Keluarga dan Masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan; mendorong penguatan pendidikan karakter anak; meningkatkan kepedulian keluarga terhadap pendidikan anak; membangun sinergitas antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat; serta mewujudkan lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman dan menyenangkan. Pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan di era adaptasi kebiasaan baru ini adalah tanggung jawab bersama, baik orang tua, guru, sekolah, pemerintah (pusat dan daerah), layanan kesehatan dan masyarakat sipil. Setiap pihak harus mengambil peran bersama-sama, berkolaborasi, bersinergi agar kita dapat memastikan anak dapat terus belajar secara sehat dan selamat. Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi peran masing-masing stakeholder, apakah telah cukup memberikan kontribusi yang maksimal sebagai upaya dalam menjamin PAUD di masa pandemi saat ini. “Ada miskonsepsi yang berkembang di kalangan masyarakat/orang tua, apabila mereka sudah membayar SPP, mengantar anaknya ke sekolah, maka tugasnya telah selesai di bidang pendidikan. Akan tetapi kalau kita lihat pendidikan yang berhasil di negara-negara maju, sebagian besar ditentukan oleh dukungan keluarga/orang tua terhadap sekolah anak.” ujar Dr. Hasbi dalam penyampaian materinya. Pihak pemerintah, pada tanggal 7 Agustus 2020, telah dilakukan penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran, yang intinya adalah penambahan zona yang diperbolehkan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimasa pandemi ini. Jika tadinya yang diperbolehkan hanya pada daerah zona hijau, maka sekarang ditambah zona kuning. Tetapi untuk zona oranye dan merah tetap dilarang untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan diminta untuk melanjutkan pembelajaran dari rumah. Untuk PAUD sendiri, baru boleh masuk dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka 2 bulan setelah dibukanya tatap muka untuk seluruh jenjang (SD, SMP, SMA). Adapun pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka di tingkat satuan PAUD tetap harus mengikuti protokol kesehatan pencegahan covid-19. Selama masa pandemi ini, Kemendikbud juga telah menyiapkan kurikulum darurat. Mengingat masih sulitnya pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi satuan PAUD, maka telah disediakan beberapa skema; menyediakan panduan untuk guru yang mampu memfasilitasi orang tua selama masa belajar dari rumah di masa pandemi. Terdapat 12 panduan berupa buku saku yang disediakan, yang dapat diunduh melalui tautan www.bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id; menyediakan panduan untuk orang tua, dan juga adanya pelaksanaan Webinar Berseri di tingkat nasional dan daerah (melalui UPT) dengan tema Rumahku Sekolahku, Kelas Orang Tua berbagi. Pentingnya Peranan Bunda PAUD dalam Mensosialisasikan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Melalui Pendidikan Anak Usia Dini.

Bunda Nevi dalam pembukaan materinya menyampaikan bahwa salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik anak adalah dengan memperhatikan pola asuh yang merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak, antara guru dan anak dalam mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual dan spiritual sejak anak dalam kandungan sampai dewasa. Hal ini dapat dimulai dengan pendekatan pendidikan dari lingkungan keluarga, sekolah sampai masyarakat, sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, madiri, sehat, berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia yang disebut dengan berkarakter. Karakter tidak begitu saja muncul begitu manusia dilahirkan, namun melewati proses pembentukan yang panjang, yang akan beradaptasi pada nilai perilaku sesuai dengan standar moral yang berlaku di lingkungan dimana seorang anak dibesarkan.
PAUD memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak, seperti dalam hal melatih kedisiplinan, kejujuran, etos kerja dan regiusitas, yang kemudian menjadi dasar bagi anak sebelum mendapatkan pendidikan kognitif. Proses membentuk/pendidikan karakter ini dilakukan dengan penanaman nilai dalam upaya mendorong anak didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya dan aturan moral yang berlaku sehingga kelak dewasa anak memiliki jati diri yang berbasis nilai-nilai kearifan lokal. “Penanaman nilai-nilai agama sejak dini juga memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Jika kita dekatkan anak dengan nilai-nilai agama kita sejak usia dini, akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik, bukan membentuk mereka menjadi sesuatu yang radikal, tetapi justru menjadikan mereka memahami bagaimana sebetulnya nilai-nilai disiplin, jujur, etos kerja dan religius yang diterapkan sehari-hari. ” ujar Bunda Nevi menambahkan. PAUD yang berkarakter berbasis kearifan budaya lokal adalah lembaga/sekolah yang menyusun dan melaksanakan kurikulum dan proses pembelajaran dengan memasukkan muatan budaya Minangkabau dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud RI. Di dalam Budaya Adat Minangkabau di Sumatera Barat dikenal adanya istilah Sumbang Duo Baleh, yang merupakan falsafah nilai-nilai sopan-santun, etika dan moral yang mengatur kehidupan masyarakat sehari-hari, yang meliputi bagaimana cara duduk, berdiri, makan, berjalan, berbicara, melihat orang, berpakaian, bekerja, bertanya, menjawab tanya, dan bagaimana cara bergaul dengan lingkungan sekitar. Bunda PAUD adalah simbol sekaligus mitra utama dalam gerakan PAUD Berkualitas. Sebagai figur ibu yang merupakan tokoh sentral di setiap jenjang pemerintahan, oleh karena itu, keberadaan Bunda PAUD adalah memotivasi masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk menyediakan layanan PAUD yang berkualitas. Lebih lanjut dalam penutupan pembahasan materinya, Bunda Nevi menyampaikan bahwa Bunda PAUD yang ada di 19 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat siap dan kompak bekerjasama memberikan dukungan bagi mulai dalam hal penyusunan kurikulum untuk guru/pendidik serta menyediakan fasilitas sarana dan prasarana yang terkait dengan pengembangan program-program PAUD di Provinsi Sumatera Barat khususnya.

Pentingnya PAUD untuk Mempersiapkan Generasi Cerdas dan Berkarakter dalam Membangun Negeri Kegiatan webinar ditutup dengan pembahasan "Pentingnya PAUD yang dilihat dalam perspektif psikologi anak, pendidik dan orang tua" oleh Kak Seto. Penyampaian materi yang disajikan secara kreatif, interaktif dan atraktif menambah semangat dan keceriaan seluruh peserta webinar. Sekali-kali Kak Seto menyisipkan beberapa lagu anak, cerita anak hingga mendongeng dengan menggunakan alat peraga (boneka), sehingga peserta webinar tidak merasa bosan. Penyampaian materi yang disampaikan Kak Seto menuai banyak pujian, beberapa komentar peserta menyebutkan bahwa pendidik PAUD dan orang tua dapat menerapkan metode dan cara penyampaian materi Kak Seto kepada peserta didik di rumah dan di sekolah. Beberapa komentar peserta webinar juga meminta perlu adanya tambahan durasi bagi Kak Seto dalam menyampaikan materinya. Dalam pembukaannya, kak Seto mengajak ayah-bunda/orang tua untuk menjadi pendidik anak yang ramah anak, karena beberapa laporan menyebutkan bahwa kondisi pandemi saat ini ini membuat begitu banyak permasalahan-permasalahan ekonomi, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi tensi orang tua dalam mengahadapi dan membimbing anak belajar di rumah. Sebagai orang tua dan pendidik PAUD, perlu mengetahui prinsip – prinsip dasar pendidikan yang telah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu kasih sayang, keteladanan, komunikasi, apresiasi dan bimbingan. Terdapat 8 standar isi pendidikan nasional saat ini yang perlu diterapkan dalam pendidikan bagi anak, yang meliputi etika (nilai-nilai moral, agama, akhlak), estettika (mengenal adanya keindahan, kerapian), IPTEK, nasionalisme (nilai-nilai budaya) dan kesehatan. Pada dasarnya semua anak senang belajar, dan proses belajar yang efektif adalah belajar dalam suasana gembira dan menyenangkan. Untuk itu perlu dibangun komunikasi yang efektif, tidak hanya antara orang tua dengan anak, tetapi juga orang tua dengan guru. Sehingga materi ajarpun dapat diberikan dengan cara yang tepat untuk anak melalui orang tua. Selain bernyanyi, aktivitas yang dapat dilakukan sebagai metode pembelajaran yang kreatif dan efektif adalah dengan mendongeng. Hal ini dapat mendukung tumbuh kembang karakter anak, karena dari aktivitas mendongeng, orang tua / guru dapat mengajarkan dan menamamkan nilai-nilai moral dari sebuah dongeng. Seperti nilai sopan santun, jujur, rendah hati, penuh hormat, semangat, kreatif, disiplin dan sebagainya.


Saat ini anak-anak di Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang berdasarkan Konvensi Hak Anak. Yang termasuk ke dalam hak dasar anak diantaranya adalah hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak partisipasi. “Jangan ada lagi kekerasan terhadap anak. Ketegasan perlu, tetapi tidak harus dengan cara kekerasan. Marah boleh, tapi marah yang tidak merusak persahabatan dengan anak.” Ujar Kak Seto di tengan penyampain materinya.
“Kunci sukses menghadapi anak adalah kreatif. Jangan mudah menyerah, jangam mudah ngambek, jangan mudah emosi. Hadapi anak dengan tenang, diarahakan dengan baik. Dan kreativitas tersebut bisa dilatih” Kak Seto menambahkan sekaligus menutup materinya.