Berita

Pelepasan Mahasiswa Praktik Kerja Lapangan Universitas Negeri Padang

Senin, 22 November 2021, Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Dr Wisma Endrimon resmi melepas tujuh orang  mahasiswa S1 jurusan Teknologi Pendidikan dan S1 Administrasi Pendidikan, Universitas Negeri Padang, setelah melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat. Acara pelepasan ini  dilaksanakan secara daring melalui video conference Zoom Meeting yang diikuti oleh jajaran pimpinan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Dra. Erlina sebagai dosen pembimbing PKL, serta mahasiswa yang melaksanakan PKL di BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat.
Kegiatan PKL ini berlangsung dari bulan November 2020 hingga Februari 2021. Selama menjalankan kegiatan PKL ini, terdapat pembagian tugas dimana  mahasiswa dari jurusan Teknologi Pendidikan membantu tugas pamong belajar dalam memetakan mutu pendidikan, sedangkan mahasiswa dari jurusan Administrasi Pendidikan membantu staf tata usaha dalam pelaksanaan administrasi di BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat.
Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Dr. Wisma Endrimon, M.Pd berharap agar mahasiswa yang telah menyelesaikan kegiatan PKL ini dapat mengevaluasi pembelajaran yang didapatkan selama belajar di kampus dan pembelajaran yang didapatkan selama melaksanakan PKL di BP  PAUD dan Dikmas Sumatera Barat sehingga nantinya dapat memahami dan berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.


 

Berita

5 Pegawai baru siap memberikan warna baru di lingkungan kerja BP PAUD dan Dikmas

Pariaman, 15 Februari- Sebanyak 5 orang tenaga baru siap bertugas dan memberikan warna baru di BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat. Tenaga yang baru bergabung ini terdiri dari 2 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan 3 orang Pegawai Pemerintahan Non Pegawai Negeri (PPNPN). Jabatan yang diemban oleh pegawai CPNS ini adalah Penyusun Program dan Anggaran, dan Analis Mutu Pendidikan. Sedangkan bagi pegawai PPNPN ini, akan membantu di bidang publikasi, keuangan, dan kepegawaian.
Dr Wisma Endrimon, M.Pd, selaku pimpinan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat antusias menyambut tenaga baru yang bergabung dalam keluarga besar BP PAUD dan Dikmas Sumbar.
“Penerimaan tenaga baru ini diharapkan dapat menambah dukungan sumber daya manusia dalam meningkatkan pelayanan BP PAUD dan Dikmas Sumbar dibidang peningkatan mutu pendidikan, karena sebelumnya jabatan tersebut masih belum diisi” ujar Drs. Madrian selaku Kasubag Umum BP PAUD dan Dikmas Sumbar.
Drs. Madrian mengajak kepada seluruh pegawai untuk selalu bersinergi, khususnya bagi pegawai baru, dan terus proaktif serta inovatif dalam menjalankan tugas di BP PAUD dan Dikmas Sumbar sehingga pelayanan masyarakat semakin prima.
 

Berita

Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Fungsional WIdyaprada dan Jabatan Fung

Sebanyak 15 orang Pamong Belajar BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, bersama 11 Widyaiswara di lingkungan LPMP Sumatera Barat, resmi melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Jumeri, S.TP., Kamis 18 Februari 2021. 

Pelantikan bagi Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat menjadi Widyaprada dilaksanakan secara langsung di gedung C Lantai 3 Komplek Kemdikbud, Jl. R.S Fatmawati, Cipete Jakarta Selatan. 

Sedangkan pelantikan bagi Widyaprada ini dilaksanakan secara daring melalui video conference Zoom Meeting di Aula Ungku Syafei, LPMP Sumatera Barat, bagi Widyaprada di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah di seluruh Indonesia.

Selamat menjalankan tugas dan mengemban amanah.

Berita

Pelaksanaan Hari Aksara Internasional (HAI) 2020

Sejarah Lahirnya Hari Aksara Internasional 
Hari Aksara Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Pada tanggal tersebut, seluruh dunia akan memperingati hari yang juga disebut sebagai Hari Literasi Internasional. Peringatan tahunan ini bertujuan untuk mengingatkan publik akan pentingnya literasi sebagai masalah martabat dan hak asasi setiap manusia. Peringatan Hari Aksara Internasional terus dilakukan untuk menjaga kesadaran pentingnya melek huruf bagi manusia sehingga dapat terus memajukan agenda literasi menuju masyarakat yang lebih melek huruf dan berkelanjutan. Dengan begitu, penting bagi masyarakat seluruh dunia untuk terus membawa nilai-nilai penting dari Hari Aksara Internasional. 
Awal Mula Hari Aksara Internasional Peringatan yang kerap pula disebut sebagai Hari Melek Huruf Internasional ini muncul sejak diadakannya konferensi tentang Pemberantasan Buta Huruf, di Teheran, Iran, pada tanggal 8-19 September 1965. Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan komitmen dan mengajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap penuntasan buta aksara. “Sejak penyelenggaraan Hari Aksara Internasional (HAI) pertama pada tahun 1966, peringatan ini terus dilakukan oleh dunia setiap tahun sebagai wujud memajukan agenda keaksaraan di tingkat global, regional, dan nasional,”  yang tertulis dalam laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud). 
Berdasarkan data UNESCO, meskipun ada kemajuan, tantangan dan masalah literasi di berbagai dunia tetap ada. Setidaknya, sebanyak 773 juta orang dewasa di seluruh dunia saat ini mengalami kekurangan keterampilan keaksaraan atau literasi dasar. Literasi dasar sendiri terdiri dari berbagai jenis, seperti literasi baca tulis, finansial, numerasi, digital, dan yang lainnya. Seseorang yang mengalami kekurangan literasi dasar berarti kurang mampu atau tidak mengerti tentang literasi-literasi tersebut. 
Di Indonesia, masalah tersebut pun masih ditemukan, walaupun sudah terjadi penurunan angka. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS tahun 2018, jumlah penduduk buta aksara di Indonesia turun menjadi 3,29 juta orang atau hanya 1,93 persen dari total populasi penduduk. Sebelumnya, pada tahun 2017, jumlah penduduk buta aksara di Indonesia tercatat sebanyak 3,4 juta orang. Hal tersebut tidak luput dari segala upaya yang telah pemerintah lakukan. ”Kami melaksanakan program keaksaraan dalam dua tingkatan, yaitu keaksaraan dasar bagi warga yang masih buta aksara, dan keaksaraan lanjutan bagi yang telah menyelesaikan program keaksaraan dasar,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar dikutip dari Kemendikbud. 
Kemendikbud juga memfokuskan program-program keaksaraan pada daerah yang penduduknya banyak mengalami buta huruf, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan beberapa lainnya. Sementara dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional tahun ini, UNESCO, sebagai inisiator peringatan tahunan ini, akan mengadakan webinar atau seminar berbasis online. 
Isu Hari Aksara Internasional 2020 akan fokus pada pengajaran dan pembelajaran literasi dalam krisis COVID-19 dengan fokus pada peran pengajar dan perubahan pedagogi atau strategi dalam mengajar. Selain itu, UNESCO juga akan membahas dampak pandemi ini terhadap proses pembelajaran, strategi yang dapat ditempuh untuk melakukan pemulihan, dan lain-lain. “Krisis Covid-19 baru-baru ini telah menjadi pengingat akan kesenjangan yang ada antara wacana kebijakan dan kenyataan, yaitu sebuah celah yang sudah ada di era pra-Covid-19 dan secara negatif memengaruhi pembelajaran anak muda dan orang dewasa yang tidak memiliki atau memiliki tingkat melek huruf yang rendah sehingga cenderung menghadapi banyak kesulitan,” tulis UNESCO di situs resminya. 


Indonesia Lepas Merdeka dari Permasalahan Buta Aksara

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2020 dilakukan secara virtual, yang langsung menghadirkan Mendikbud Nadiem Makarim Anwar. Dengan mengambil tema pembelajaran literasi dalam masa covid 19 dan mengusung momentum perubahan paradigma pendidikan.
Ada pesan yang sangat menyejukkan dalam pelaksanaan HAI 2020 yang mengulas 6 literasi kemampuan dasar dalam abad 21. Termasuk mas menteri mengajak semua stake holder bahu membahu dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Menurut Mas Menteri dalam kesempatan yang istimewa yang mendalam sehingga ilmu pengetahuan dan dan teknologi terus berkembang. Ditambakan lagi, dan menjadi penopang kesuksesan Indonesia dimasa kini dan dimasa yang akan datang. 
Kita sadari mengacu pada tema HAI ke 55 yang diusung Unesco. Pemerintah Indonesia senantiasa terus menguapayakan agar seluruh masyarakat lepas merdeka dari permasalahan buta aksara. Berbagai strategi penuntasan buta aksara terus dilakukan dinatara memutakhiran data buta aksara memperluas layanan program pendidikan keaksaraan memperluas layanan pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya penuntasan pendidikan keaksaraan dan pemeliharaan kemampuan dalam keberaksaraan warga masyarakat. Dan terakhir mengakselerasi inovasi layanan program pada daerah yang terpadat buta aksara. 
Kemendikbud juga bergotong royong memperjuangkan pendidikan inklusif termasuk dimasa pendemi sekarang.dan mengambil hikmah dari pandemi inisaat pandemi selesai kita harus yakin dan menjadi pemenang. Yang terus memiliki harapan dan cita cita untuk mengentaskan buta aksara dari neara tercinta Indonesia dan bersama sama menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia. Serta selalu menggelorakan semangat dalam memperjuangkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia.  
  Namun Pertanyaan paling pintar dari orang paling awam saat ini adalah; kenapa pemerintah tak kunjung selesai memberantas buta huruf di negeri ini?
Sekalipun untuk mengakui bahwa upaya pemberantasan buta huruf itu mengalami banyak rintangan, pemerintah pun menghaluskan idiom buta huruf dengan buta aksara. Namun dari waktu ke waktu penduduk yang tidak melek huruf dan angka tetap saja ada.
Tiap kali pergantian tahun anggaran, maka tiap kali pula dicantumkan alokasi anggaran untuk pemberantasan buta aksara dalam anggaran baru. Dan itu sudah berlangsung berpuluh tahun sejak program pemberantasan buta huruf dicanangkan semasa Presiden Soekarno.
Tapi dari waktu ke waktu kita jadi tersadar bahwa tak gampang rupanya membuat orang  buta jadi melek. Tak mudah menghindarkan orang dari kebutaan. Maka dampaknya angka buta aksara Indonesia tak kunjung hilang, meskipun tak ada tren menaik namun cukup menyita pikiran serta bisa memberi ancaman pada merosotnya indeks pembangunan manusia (HDI - Human Development Index) Indonesia.
Data di Biro Pusat Statistik juga sudah terjadi pengurangan buta aksara misalnya, menunjukkan bahwa masih terdapat 15 jutaan penduduk berusia 10 tahun ke atas di Indonesia yang buta huruf. 11 juta orang diantaranya adalah mereka yang berusia 45 tahun ke atas.
Upaya yang dilakukan pemerintah pada tahun lalu, baru berhasil memelekhurufkan sekitar 500an ribu orang saja. Padahal target jangka menengah setidaknya 1,5 juta orang tiap tahun harus bebas buta huruf dari sisa jumlah yang masih belum bisa baca tulis itu.
Kita jadi makin keteter ketika PBB lewat UNDP mulai menerapkan cara menghitung angka indeks pembangunan manusia (IPM atau HDI) dengan mengambil kebutaaksaraan sebagai salah satu variabelnya. Makin tinggi angka buta aksara makin melorot HDI satu negara.
Beberapa tahun lalu UNDP masih meletakkan posisi Indonesia pada urutan ke-111 dari 177 negara. Dengan demikian sungguh panjang dan berat jalan yang akan ditempuh Indonesia untuk menuju angka HDI yang bagus.
Pada beberapa daerah angka buta aksara itu masih cukup besar dan mengontribusi secara signifikan indikator kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat. Berbagai penyuluhan dalam rangka memperbaiki taraf hidup yang dilakukan pemerintah justru mengalami kendala lantaran masyarakat yang akan disuluh tidak bisa baca tulis bahasa manapun. Penyuluhan terpaksa dibuat spesifik dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat setempat.

Para penderita HIV AIDS di Papua misalnya diketahui banyak yang tidak bisa baca tulis. Penyuluhan tentang HIV AIDS dilakukan oleh Departemen Kesehatan lebih banyak menggunakan brosur dan sejenisnya. Akibatnya hanya yang bisa baca tulis saja yang mengerti pesan-pesan anti-HIV AIDS.
Dampak lain dari buta aksara dirasakan pada lambatnya upaya peningkatan taraf hidup petani. Di tiap daerah tak kecuali Sumatera Barat di salah satu Kabupaten Solok dimasa Bupati Gamawan Fauzi, pernah menjadikan pemberantasan buta aksara sebagai salah satu program pertaniannya. Kedengarannya agak aneh kalau Dinas Pertanian mengurus buta huruf. Tapi sang Bupati pada 17 tahun silam itu sudah mendesak semua aparatnya agar tidak mengedepankan egosektoral.
“Sekalipun buta huruf merupakan ‘gawe’nya Dinas Pendidikan tetapi demi kemaslahatan orang banyak, maka semangat egosektoral yang masih menggejala di kalangan birokrasi kita harus disingkirkan.  Sebaliknya jika orang pendidikan  memilih sebuah kelompok tani untuk jadi sasaran bagi program pemberantasan buta aksara tidak berarti ia sedang ‘menyukseskan’ program dinas pertanian. 
Inilah sinergi yang dibangun di Sumatera Barat. Buta aksara diberantas bersama. Beban itu ternyata tidak dipikul sendiri oleh Dinas Pendidikan dan tidak hanya menjadi kepentingan sektor pendidikan belaka tapi juga kepentingan sektor pertanian dan bahkan kepentingan sektor lainnya. Dapat dikatakan bahwa pemberantasan buta aksara adalah kepentingan lintas sektoral.
Pertanyaan awam pada permulaan tulisan ini agaknya sudah dapat dijawab. Bahwa kalau contoh di lapangan menunjukkan buta aksara dapat ditanggulangi secara lintassektoral, maka masih banyaknya orang yang tidak melek huruf di Indonesia salah satunya disebabkan oleh egosektoral yang terlalu ditonjolkan oleh masing-masing departemen dan dinas-dinas di daerah.
Sekarang jika semua sepakat untuk ‘mengeroyok’ buta aksara maka ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan.
Pertama perlu merumuskan lagi upaya pemberantasan buta aksara secara terpadu atau lintassektoral.Ini memerlukan perumusan komitmen baru di tingkat interdept.
Keterpaduan itu misalnya dapat dilihat dari adanya kemauan departemen yang tak terkait langsung dengan keaksaraan tapi bisa ikut menyediakan ’slot’ bagi pemberantasan buta aksara pada program-programnya.
Kita kini menantikan ‘makan tangan’ Pemerintah. Mengamanatkan bahwa dalam rangka percepatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan dalam rangka percepatan pemberantasan buta aksara, agar para menteri, gubernur dan Bupati/Walikota mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing untuk melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
Dalam Inpres itu dimintakan semua pihak meningkatkan persentase peserta didik sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah/pendidikan yang sederajat terhadap penduduk usia 7-12 tahun atau angka partisipasi murni (APM) sekurangkurangnya menjadi 95 %. Dan yang terpenting lagi menurunkan persentase penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas sekurang-kurangnya menjadi 5 % pada akhir tahun ini.
Ini berarti bahwa soal keterpaduan pemberantasan buta huruf itu sudah ada payung hukumnya. Dengan demikian sebagaimana instruksi presiden No 5 itu, Departemen Pertanian pun bisa dan diberi kewenangan memberantas buta aksara di kalangan petani melalui HKTI. Begitu juga menteri yang lain, Menaker untuk kalangan buruh, Menteri Kelautan dan Perikanan untuk para nelayan dan seterusnya. Sedang Mendiknas akan menjadi penanggung jawab utama dari program ini.
Kedua, keterpaduan itu tidak melulu hanya pada tataran menteri dan kementeriannya tetapi mesti meluas kepada lembaga, organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah (LSM)
Indikator meluasnya upaya pemberantasan buta aksara itu misalnya akan dapat dilihat dari keterlibatan berbagai organisasi memberantas buta aksara. Misalnya, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa memasukkan pemberntasan buta aksara sebagai program wajibnya. Mahasiswa tak lagi sekedar memberihkan kampung atau mengajak pemuda bermain bola voli, tetapi selama masa KKN nya harus ‘menghabiskan’ semua penduduk yang terdata sebagai buta huruf. Tiap tahun wilayah KKN itu diarahkan ke desa-desa yang angka buta hurufnya tinggi.
Organisasi Kepemudaan (OKP) juga memiliki program Pengabdian masyarakat. Lewat jalur Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dan Ketua KNPI rasanya tak sulit menyisipkan program pemberantasan buta huruf dalam program pengabdian masyarakatnya.
Begitu juga dengan Pramuka dan Karang Taruna, akan berpotensi besar mempercepat melek huruf dan angka masyarakat yang masih buta aksara.
Ketiga, harus ada ketegasan bahwa Wajib Belajar 9 Tahun tida boleh ada drop out apalagi sampai ada yang tak terjaring alias tidak sekolah sama sekali. Angka kegagalan Wajar 9 Tahun setiap tahun akan ekuivalen dengan pertambahan angka buta aksara. Mereka yang tak bersekolah hampir bisa dipatikan semuanya tak bisa baca tulis.
Ini berarti, pekerjaan Dirjen Dikdasmen tidak boleh lagi ‘bersisa’ sehingga Dirjen PLS tidak lagi harus menjadi tim penyapu. Kelak Dirjen PLS benar-benar mengurus pendidikan luar sekolah, pemuda dan olah raga saja.
Keempat, dengan payung hukum Inpres  No 5, seharusnyalah mulai digelorakan budaya malu atas kebutaaksaraan. Bupati/Walikota dan Gubernur akan malu besar jika warganya masih ada yang tak bisa baca tulis. Seterusnya Camat, Kepala Desa juga malu kalau warganya ada yang buta huruf. Pada akhirnya semua keluarga Indonesia akan bertanggung jawab memelekhurufkan anggota keluarganya yang buta huruf. 
Media massa sudah semestinya ikut andil menggelorakan semangat antibuta huruf ini. Makin banyak orang yang melek huruf, semakin besar peluang media massa dibaca dan ditonton. Pesan-pesan akan sampai ke masyarakat, jika semua sudah bisa membaca dan menulis.

Upaya Pemerintah Dalam Menurunkan Angka Buta Aksara

Upaya Pemerintah dalam menurunkan angka buta aksara melalui berbagai strategi dan program telah memperoleh hasil yang membanggakan. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS tahun 2019 jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Persentase buta aksara tahun 2011 sebarnyak 4,63 persen, dan pada tahun 2019 turun menjadi 1,78 persen Artinya, angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya seiring dengan terlaksananya berbagai strategi yang inovatif dan menjawab kebutuhan belajar masyarakat, kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, Jumeri, dalam Bincang Pendidikan dan Kebudayaan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2020 yang berlangsung secara virtual, Jumat (4/9/2020) Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi COVID-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan Sebagai penggiat akan komitmen penuntasan buta aksara, maka UNESC0 menetapkan tanggal 8 September sebagal Hari Aksara Internasional (HA). Tahun Ini adalah peringatan HAI ke 55 yang diselenggarakan setiap tahun. Tema yang diusung oleh UNESCO adalah “Literacy Teaching and. Learning in The COVID 19 Crisis and Beyond with a Particular Focs on The Role of Educatery and Changing Pedagogies Mengacu item tersebut, Kemendikbud menetapkan tema Pambelajaran Literasi d Masa Pandemi COVID 19, Momentum Perubatan Paradigmia pendidikan” disampaikan Jumeri. Menurut Jumeri, strategi penuntasan buta aksara beberapa tahun terakhir difokuskan pada daerah Tertinggal, terdepan, terluar (3T) karena daerah tersebut sulit terjangkau terutama di masa pandemi. Jumeri berharap, masa krisis ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk menunjukkan  keperjuangan, kolaborasi antar permerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk  menyukseskan pemberantasan buta aksara dilndonesia 
buta aksara adalah amanah pendidikan yang harus diperjuangkan
Buta aksara adalah amanah pendidikan yang harus terus diperjuangkan Senada dengan itu, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud, Samto mengingatkan bahwa  Penuntasan buta aksara adalah amanah pendidikan yang harus terus diperjuangkan, terlebih dahulu di masa krisis akibat pandemi COVID 19. “Marilah kita meminta saudara saudara kita yang tertinggal, kita berikan mereka kesempatan untuk mengakses informasi. Berikan mereka peluang untuk berkembang,” ucap Samto.  Peringatan HAI tahun ini diselenggarakan secara webinar dan diakses secara langsung melalui media sosial Kemendikbud, TV Edukasi.  Dalam Webinar HAI tanggal 8 September Ini akan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, UNESCO dan para pelaku nendidikan keaksraan dan literasi masyarakat.  Tema HAI tahun ini, menurutnya memberikan layang-layang pelajaran untuk lebih peduli dan banyak berbenah memperbaiki strategi pembelajaran, termasuk literasi.  Kita mencoba mengubah sistem pengembangan pendidikan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya literasi sejak dini agar kesetaraan akses pendidikan semakin terjangkau lunjut Samto.

Pekan Perayaan Literasi 

Selain itu, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus juga mengadakan Pekan Perayaan Literasi dengan mengusung tema “Pembelajaran Literasi di Masa  Covid 19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan. “  Kegiatan ini diselenggarakan dalam bentuk pameran literasi foto dan video, diskusi literasi virtual, lokakarya pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat;  dan webinar literasi yang diselenggarakan pada tanggal 17 September 2020. Pada puncak peringatan HAI akan diberikan penghargaan kepada berbagai pihak yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan, antara lain 1).  Anugerah Aksara bagi pemerintah kabupaten / kota yang akan diberikan kepada tiga pemerintah daerah, 2).  Penghargaan Penggiat Keaksaraan Tokoh Masyarakat/ Pengelola / Tutor untuk 9 orang pegiat terbaik, 3).  Penghargaan TBM Kreatif / Rekreatif yang akan diberikan kepada delapan lembaga terbaik, 4).  Penghargaan Keberaksaraan bagi Tokoh Adat untuk 6 orang tokoh.  Selanjulnya, 5) Penghargaan Publikasi vieo Keaksaraan untuk enam orang terpilih, 6).  Penghargaan.  Publikasi Keaksaraan di Media Cetak untuk empat orang, 7) Penghargaan Foto Literasi Keaksaraan, bagi tiga foto terbaik, a) Penghargnan Videb Keaksaraan untuk 3 vidleo terpilih, serta 9) Apresiasi Menulis Praktik Baik Literasi untuk enam praktik terbaik, Adapun total penerima penghargaan mencapal 48 orang  / lembaga Sebagal bentuk apteslas Kemendikud terhadap semakin banyak orang maupun lembaga yang  pemberantasan buta aksara di Indonesia. 

Berita

Sumbang Duo Baleh, Warisan Budaya, Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Anak Us

PARIAMAN, SABTU (12/9) – Menyusul kesuksesan kegiatan Webinar Nasional Perdanya nya pada 29 Agustus 2020 yang lalu, BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat kembali menggelar kegiatan serupa bertajuk “Sumbang Duo Baleh, Warisan Budaya, Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Anak Usia Dini” pada tanggal 12 September 2020. Kegiatan ini merupakan webinar seri ke-2 dari sembilan seri program Webinar Kemitraan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat yang akan diselenggarakan selama tahun 2020. Webinar ini dibuka secara resmi oleh Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, dan mengundang tiga pembicara lainnya, yang merupakan praktisi, akademisi serta tokoh yang berkecimpung di bidang pendidikan, yaitu Dra. Elmizar, M.Pd - Pamong Belajar Madya BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Gusdi Sastra, M.Hum.,Ph.D.,- Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas Padang, dan Musra Dahrizal Rajo Mangkuto atau yang dikenal dengan sapaan Mak Katik, - Budayawan, Seniman sekaligus Pengajar Budaya Adat Minangkabau.
Tema sumbang duo baleh sendiri merupakan salah satu model yang pernah dikembangkan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat di Tahun 2017, yang diketuai oleh Dr. Elmizar, M.Pd sebagai pengembang. Dengan mengusung judul “Penerapan Perilaku Positif Nilai Sumbang Duo Baleh bagi Pendidikan Anak Usia Dini”, model ini telah dipublikasikan dan diterapkan oleh beberapa sekolah/PAUD yang ada di Sumatera Barat, yaitu di Kabupaten Pasaman Barat, Kota Bukittinggi dan Kabupaten Solok. Pada tahun 2018, model ini juga telah diseminarkan secara nasional dan internasional serta direkomendasikan kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kabupaten/kota untuk dapat diterapkan bagi satuan-satuan PAUD di wilayah Provinsi Sumatera Barat. 
Di zaman modern ini, nilai – nilai luhur negeri di negara Indonesia sudah mulai memudar dan terkikis oleh derasnya pengaruh globalisasi. Generasi muda sudah mulai asing dengan nilai-nilai yang dianut dalam budayanya sendiri. Padahal anak Indonesia saat ini merupakan harapan besar menjadi penerus dan penentu kemajuan bangsa, yaitu generasi penerus yang kuat, cerdas, berkarakter, serta menjunjung nilai-nilai sopan santun.
“Tergerusnya pemahaman anak-anak terhadap nilai budaya di Masyarakat Minangkabau pantas kita cemaskan. Kuatnya arus informasi yang masuk, sangat mempengaruhi anak-anak, dan kita harus cukup siap menghadapi tantangan ini. Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah mungkin nanti hanya tinggal mimpi saja di masa depan, hanya menjadi falsafah yang sering disebut, tetapi tidak pernah muncul dalam berperilaku di keseharian” Dr. Wisma Endrimon dalam pembukaannya menjelaskan.
Sumbang Duo Baleh merupakan salah satu warisan Budaya Adat Minangkabau berupa peraturan tidak tertulis  yang berisikan 12 nilai sopan santun dan nilai  tata krama. Dua belas nilai tersebut adalah : Sumbang duduak, Sumbang tagak, Sumbang diam, Sumbang bajalan, Sumbang kato, Sumbang caliak, Sumbang bapakaian, Sumbang bagaua, Sumbang karajo, Sumbang tanyo, Sumbang jawab, Sumbang kurenah. 

Webinar yang mengangkat tema “Sumbang Duo Baleh Warisan Budaya, Pendidikan Karakter Dan Pembelajaran Anak Usia Dini” ini bertujuan untuk meningkatkan kembali kesadaran dan pemahaman, terutama bagi orang tua/pendidik anak usia dini tentang pentingnya peran nilai budaya dan kearifan lokal dalam filosofi Sumbang Duo Baleh sebagai acuan pembelajaran dan pendidikan anak di usia dini. Hal ini penting karena filosofi sumbang duo baleh juga berisikan pembelajaran tentang aspek moral, spiritual, intelektual, emosional dan sosial yang penting untuk diterapkan sebagai upaya penanaman nilai karakter bagi anak dalam kehidupan sehari-hari sejak usia dini. Diharapkan filosofi nilai-nilai budaya di negeri ini dapat dihidupkan dan dipopulerkan kembali, sehingga mempersiapkan karakter anak dalam menyikapi dan menghadapi tantangan dan pengaruh dari budaya luar yang jauh dari nilai-nilai sopan santun budaya di Indonesia.
Setelah sebelumnya pada webinar pertama  yang mengusung tema “Mempersiapkan Generasi Emas Membangun Negeri Melalui Pendidikan Anak Usia Dini”, salah satu narasumber, Ibu Hj. Nevi Zuraini selaku Bunda PAUD Provinsi Sumatera Barat, sempat membahas mengenai filosofi sumbang duo baleh. BP PAUD dan Dikmas Sumbar tertarik untuk kembali untuk mengadakan diskusi lebih jauh mengenai implementasi sumbang duo baleh dan memperkenalkannya pada proses pembelajaran pendidikan bagi anak usia dini. Tanggung jawab mempersiapkan generasi penerus yang cerdas dan berkarakter di masa yang akan datang merupakan tantangan bagi kita semua, sehingga menjadi penting untuk mengangkat tema untuk didiskusikan, serta mengajak para orang tua, pendidik anak, guru dan masyarakat memperkenalkan nilai-nilai sumbang duo baleh ini kepada anak-anak sejak usia dini.

“Tidak mudah, tentu. Bagi kita saja yang sudah dewasa, tidaklah sederhana, apalagi bagi anak-anak. Tetapi kita perlu yakin, bahwa mengajar anak-anak jauh lebih mudah. Memperkenalkannya (nilai-nilai sumbang duo baleh) dari awal pasti akan lebih cepat diterima. Mengajarkan pada anak ibarat mengukir di atas batu, sementara kalau sudah dewasa ibarat mengukir di atas air” ujar Dr. Wisma Endrimon menambahkan.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Budaya dan kearifan lokal suatu daerah merupakan konteks lokal yang penting dipertimbangkan dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk dalam pengelolaan dan pembelajaran di PAUD. Dalam budaya masing-masing daerah di Indonesia terdapat unsur-unsur budaya yang sangat baik untuk disosialisasikan dan diwariskan pada generasi penerusnya, salah satunya adalah nilai dan filosofi sumbang duo baleh yang berasal dari Budaya Minangkabau. Kata sumbang berarti  aturan yang tergambar dari sikap dan perilaku yang mendekati kepada kesalahan yang tidak enak di dengar dan tidak indah dilihat, atau disebut pantangan atau larangan. Nilai-nilai yang terdapat dalam konsep sumbang duo baleh adalah sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang makan, sumbang bajalan, sumbang bakato, sumbang mancaliak, sumbang bapakaian, sumbang bagaua, sumbang karajo, sumbang batanyo, sumbang manjawab, dan sumbang kurenah.

“Tim model BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat pada tahun 2017, mengembangkan suatu konsep, sumbang duo baleh sebagai acuan bagi pendidik PAUD dalam memberikan contoh dan penguatan perilaku yang benar kepada peserta didik.” Ujar Dra. Elmizar, M.Pd. dalam penyampaian materinya.

Tujuan dikembangkannya model ini adalah sebagai acuan bagi pendidik PAUD dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan penerapan nilai sumbang duo baleh bagi anak usia dini; sebagai inspirasi dalam menerapkan nilai moral, etika, dan sikap prilaku berfilosofi budaya Minangkabau.
Pendidikan berbasiskan budaya lokal yang mengadaptasi nilai positif sumbang duo baleh berfungsi membentuk karakter budaya peserta didik melalui metode bermain sambil belajar dan pembiasaan. Hal ini mendukung terwujudnya fungsi PAUD dalam pengembangan potensi anak, penanaman nilai-nilai dan norma-norma kehidupan, pembentukan dan pembiasaan perilaku-perilaku yang diharapkan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar, serta pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif bagi anak. 

“Budi baiak baso katuju, muluik manih kucindan murah, dibagak urang ndak takuik, di kayo urang ndak arok, dicadiak urang ndak ajan, dirancak urang ndak ingin, dibudi urang takanai. Sasuai bak bunyi pantun, babelok babilin-bilin, dicapo tumbuahlah padi, dek elok urang tak ingin, dek baso luluahlah hati. Nan kuriak Lundi, nan merah sago, nan baiak budi, nan indah baso.”

Berita

BP Paud Dikmas Sumatera Barat Kembangkan Lima Model

Tahun 2020 ada lima model yang dikembangkan oleh tim pokja pamong belajar BP PAUD Dikmas Sumatera Barat. Masing masingnya tiga model Paud dan dua model kesetaraan.
Menurut Kepala BP PAUD Dikmas Sumatera Barat Dr.Wisma Endrimon,M.Pd masing masingnya sudah melakukan langkah langkah dalam pengembangan model ke setiap daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat, kendati saat ini seluruh Indonesia tidak kecuali Sumatera Barat masing mengalami pandemi Covid 19, namun terus memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan.
Berikut Model model yang dikembangkan oleh tim pengembang BP PAUD Dikmas Sumbar.
MODEL KESETARAAN I
Pencapaian kompetensi tersebut dapat dicapai dengan sistim pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta didik untuk belajar. Pelaksanaan pembelajaran pada Paket B dilaksanakan dengan tiga pola pembelajaran yaitu pola pembelajaran tatap muka, tutorial dan mandiri. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan tutorial berdasarkan alokasi waktu sesuai bobot Satuan Kridit Kompetensi (SKK). Pemetaan SKK setiap mata pelajaran menetukan alokasi waktu setiap mata pelajaran pada kelompok umum dan kelompok khusus. Berdasarkan bobot SKK dapat ditentukan alokasi waktu pembelajaran tatap muka dan mandiri.
 Pelaksanaan pembelajaran tatap muka, tutorial dan mandiri yang dilaksanakan pada Paket B belum semua terlaksana dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan selama ini  pada Paket B lebih mengutamakan kegiatan pembelajaran tatap muka. Sehingga pelaksanaan pembelajaran mandiri belum terlaksana dengan baik. Pelaksanaan pembelajaran lebih terfokus pada pada pola pembelajaran tatap muka dengan metode ceramah. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih bersifat kovensional dimana pendidik mentransfer pengetahuan dengan metode ceramah pada kegiatan tatap muka.  
Berdasarkan hal tersebut diatas Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Sumatera Barat tahun 2020 melaksanakan kegiatan pengembangan model. Langkah awal pengembangan model adalah kegiatan studi pendahuluan atau studi eksplorasi yang merupakan kegiatan untuk mencari permasalahan dilapangan. Permasalah tersebut dapat dilihat berdasarkan empat indicator (Polya) sebagai berikut memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan menafsirkan jawaban.
Studi eksplorasi dilaksanakan pada enam kabupaten/kota se Sumatera Barat yang terdiri dari Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupeten Pasaman Barat, dan Kabupaten Tanah Datar. Jumlah sasaran studi eksplorasi adalah 50 orang peserta didik dan 20 orang pendidik mata pelajaran matematika. 
Dapat disimpulkan bahwa memahami masalah 50% peserta didik tidak ada jawaban. Merencanakan penyelesaian masalah 46% peserta didik tidak mengemukakan rencana penyelesaian sama sekali/keseluruhan rencana tidak ada yang benar. Melaksanakan penyelesaian 40% peserta didik tidak ada jawaban yang diberikan. Menafsirkan jawaban 48% peserta didik     tidak memberikan kesimpulan jawaban. 
Ketua Pokja Kesetaraan I Alfitriati mengungkapkan  hasil wawancara yang dilakukan dengan pendidik dapat disimpulkan bahwa Pendidik jarang memberikan soal cerita, sehingga peserta didik tidak terbiasa memecahkan masalah yang terdapat pada soal cerita, jika ada pada modul atau buku  paket paserta didik kesulitan dalam menjawab. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih bersifat kovensional dimana guru mentransfer pengetahuan dengan metode ceramah pada kegiatan tatap muka. Kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah sangat rendah     karena selama ini pendidik memberikan soal lebih dominan bersifat soal rutin.   Peserta didik hanya mampu menyelesaikan soal yang dicontohkan, apabila diberikan soal yang berbeda mereka akan kesulitan menyelesaikannya. Soal yang diberikan tidak mengaitkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut diatas perlu peningkatan pemahaman peserta didik dalam memmecahkan masalah. Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dalam memahami dan menyelesaikan masalah tersebut BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat tahun 2020 mengembangkan model yang berjudul “Pengembangan Literasi Berbasis Pendekatan Realistik Mata Palajaran Matematika Pada Paket B Kelas VIII “. Tim pengembang ini terdiri dari Ketua Alfitriati,S.Pd dengan anggota Drs. Safli, Atos Indria,S.Pd dan Rosa Ayu Putri,S.Pd
MODEL  KESETARAAN II
Judul Model ini  Pembelajaran dengan saintifik Pendekatan dengan mata pelajaran PPKn Paket B kelas VIII.
Pendekatan saintifik dalam pembelajaran mendorong peserta didik untuk menjadi “peneliti”, berpikir ilmiah, kritis dan analitis, karena pembelajaran dilakukan mulai dari tahapan mengidentifikasi permasalahan, menyusun rumusan masalah, menyusun dan menguji hipotesis, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, menyusun laporan, hingga mempersentasikannya.
Berdasarkan temuan permasalahan tersebut di atas, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengembangan model maka tahun 2020 ini Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) Sumatera Barat  mengembangkan dan mengujicobakan Model Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik pada Mata Pelajaran PPKN Paket B Kelas VIII. 
Tim yang terdiri dari Ketua Drs. Masendri,.M.Pd dengan anggota Guslinda, S.Pd, Elmiza,S.Pd dan Firmansyah,S.Pd
MODEL PAUD 1. 
Model PAUD 1 mengambil judul Pembelajaran kecakapan hidup bagi Pendidikan anak usia dini 5-6 tahun Sebagai upaya kesiapan masuk SD kelas awal.  
Kesiapan memasuki pendidikan selanjutnya (Sekolah Dasar) merupakan sesuatu yang sangat penting sekali yang harus dimiliki oleh setiap anak karena kesiapan belajar masuk sekolah merupakan modal pertama untuk mengikuti proses kegiatan belajar di sekolah. Semakin besar kesiapan belajar yang dimiliki anak maka semakin besar anak memiliki kemampuan mengikuti poses kegiatan belajar di SD. Sebaliknya semakin kecil kesiapan belajar yang dimiliki anak maka semakin kecil anak memiliki kemampuan mengikuti proses kegiatan belajar di SD. 
Sebagai Upaya dalam mengakomodasi kesiapan bagi anak PAUD/TK untuk masuk SD, bentuk pendidikan keterampilan yang memandirikan anak atau kecakapan hidup (life skills) merupakan kebutuhan agar anak memiliki kecakapan yang relevan dengan perkembangan dan kematangan anak. Pendidikan kecakapan hidup (life skill education) merupakan salah satu formula yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi dan mengembangkan  segala bentuk potensi peserta didik. Pendidikan kecakapan hidup dalam model ini merupakan bentuk pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan/kompetensi anak usia dini untuk mengatasi berbagai tuntutan dan tantangan hidup sehari-hari sebagai upaya kesiapan pendidikan lebih lanjut
Melalui pembelajaran kecakapan hidup, diharapkan peserta didik mampu mempraktekkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-harinya, seperti sudah dapat memakai baju sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, dan mengelola keperluan sendiri di rumah dan di sekolah. Pembelajaran kecakapan hidup ini dapat memberikan solusi pada tantangan di dunia nyata. Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak peserta didik melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap tema dan sub tema terhadap penerapan dalam kehidupan sehari hari anak sehingga  mendorong motivasi belajar. 
Tim Pengembangan Model BP- PAUD dan Dikmas Sumatera Barat perlu mengembangkan dan mengujicobakan Model Pengembangan Pembelajaran Kecakapan Hidup Sebagai Upaya Kesiapan Masuk SD Kelas awal. Yang bertujuan untuk dapat mempersiapkan anak tidak hanya secara kognitif namun juga mengembangkan kemampuan serta keterampilan yang diperlukan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan, mempersiapkan dan membantu mematangkan anak secara mental/psikologis agar anak benar-benar siap untuk melanjutkan kelingkungan yang lebih luas dan formal.
Penerapan pembelajaran melalui kontekstual learning dapat dilakukan di sekolah dan di rumah oleh orang tua yaitu melalui kegiatan belajar melalui bermain yang bermakna dan menyenangkan. mengingat anak usia dini akan lebih mudah menyerap informasi dan pengalaman barunya melalui bermain yang melibatkan mereka secara langsung dan konkrit dan terlibat praktek langsung dan aman, nyaman bagi anak usia dini. Tim ini terdiri dari Ketua Dra. Elmizar,M.Pd, Drs. Elwin, Dra. Rosnida.
MODEL PAUD  II
Mengusung judul Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara  Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak  Usia  5-6 Tahun
Dengan Ketua Ir. Gusfry Nelly,M.Pd dan anggota Makmur, S.Pd,M.Pd, Hidayati, S.Pd dan Afridewita,S.Pd Pengembangan ini adalah untuk memformulasikan Model Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak Usia 5-6 Tahun, yaitu : Sebagai acuan bagi sekolah atau pendidik dalam membangun kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam bentuk meningkatkan kesiapan bersekolah anak usia dini, Sebagai Acuan bagi pendidik untuk mengembangkan permainan kreatif sesuai dengan potensi anak yang sinergis dengan orang tua dan Sebagai acuan bagi orang tua dalam mendampingi anaknya dalam meningkatkan kesiapan bersekolah anak melalui Permainan Kreatif. 
Model adalah representasi  yang akurat dari proses actual yang memungkinkan seseorang atau kelompok orang untuk bertindak berdasarkan pijakan yang representative oleh model itu, sebagaimana yang didefenisikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Masyarakat Nomor 2 Tahun 2016. 
Konsep Model Permainan Kreatif Berbasis Kolaborasi Antara Pendidik dan Orang Tua Untuk Meningkatkan Kesiapan Bersekolah Anak  Usia  5-6 Tahun yang akan dikembangkan oleh BP PAUD dan Dikmas Sumatera dapat dilihat dalam deskripsi di bawah.
MODEL PAUD 3
Tujuan  utama pengembangan model ini adalah mendisiplinkan sikap dan perilaku anak usia 5-6 tahun untuk selalu mejaga kesehatan, kebersihan dan menjaga jarak dengan orang lain sebagai perlindungan dalam menjaga kesehatan anak usia dini yang terintegrasi dengan Satuan Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini. Tujuan ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
Mengembangkan Pendidikan moral dan agama dalam mensyukuri situasi dan kondisi yang sedang terjadi, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan kemampuan Bahasa anak dengan menceritakan kembali apa yang diketahuinya kepada keluarga dan teman sebaya, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan motorik kasar dan motorik halus anak melalui  pemakaian masker yang benar, mencuci tangan dan jaga jarak dengan orang lain atau teman sebaya, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan social dan emosial anak dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan protocol kesehatan covid 19, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan kognitif anak dalam menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Mengembangkan seni anak dengan membuat karya seperti bentuk sesungguhnya dengan berbagai bahan seperti kerta, plastisin, balok dan lain-lain, dengan menggunakan animasi pembelajaran mitigasi bencana covid-19, Model yang diberi judul Model pembelajaran mitigasi bencana covid-19 dengan tim pengembang Ketua Drs. Rusdi anggota Dra. Netty B Stepu, Drs. Ruswan dan  Febriza Syofiati Nur, M Si

Berita

Perubahan Struktur Kepemimpinan di Lingkungan BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat

Peralihan BP Paud Dikmas Sumbar menjadi UPT Kemendikbud terjadi  pada Januari 2017. Sebelumnya masih berstatus BPKB dibawah dinas pendidikan propinsi Sumatera barat. Ada yang unik dari peralihan itu yakni kepala terakhir bapak Drs. Affrizal Muchtar,M.Pd dan juga menjadi orang pertama sebagai kepala BP Paud Dikmas Sumbar. Seiring waktu Mei 2020 bapak Affrizal Muchtar memasuki masa purna tugas dan mengangkat PLT ibu Ir. Gusfry Nelly.MPd sebagai pelaksana tugas kepala BP paud dikmas Sumbar. Pertengahan Agustus 2020 Kemendikbud melantik bapak Dr. Wisma Endrimon,M.Pd sebagai kepala defenitif BP Paud Dikmas Sumbar bersama bapak Drs. Madrian sebagai Kasubag TU yang sebelumnya adalah Kasi Program dan pengembangan sumber daya manusia BP Paud Dikmas Sumbar. Bapak Madrian juga pernah menjadi Kasubag TU BPKB Sumatera Barat.

breaking news New

Berita Terkini